Missing U
Characters:
Lee Hyukjae
Son Yejin
Super Junior members
-Son Yejin-
“Maafkan aku.” Katanya dengan lemas. Di bawah rintikan hujan dengan berat dia mengucapkan permintaan maaf. Dia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku setelah menghadapi berbagai masalah. Aku meneteskan air mataku, aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kami tidak bisa melanjutkan hubungan kami. Tapi aku mengangguk lemas. Dia mengecup pipiku untuk yang terakhir kalinya, lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku. Aku menatap punggungnya dan menangis.
Aku terbangun dari tidurku. Lagi-lagi aku bermimpi tentang kejadian itu, kejadian di mana dia memutuskanku. Aku pun mendapati bantalku basah, dan aku menyadari bahwa aku menangis lagi, aku merindukannya. Sudah 3 tahun sejak aku berpisah dengannya. Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu lagi.
Ibuku masuk ke kamarku dan mengucapkan selamat pagi, lalu membuka tirai kamarku dan sinar matahari masuk menembus jendela kamarku. Ibuku memintaku untuk segera bersiap ke sekolah. Dengan kaki diseret-seret, aku mengambil seragamku dan masuk ke kamar mandi bersiap untuk mandi dan berangkat ke sekolah.
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+
1 tahun kemudian…
Tak terasa 1 tahun berlalu, aku dan dia tidak pernah bertemu lagi. Tapi aku tetap tidak bisa melupakannya. Perasaanku padanya belum juga hilang. Perasaan yang menyesakkan dan menyakitkan ini, tapi terkadang juga menghangatkan. Tidak, saat aku berpisah dengannya, perasaan hangat itu tidak lagi terasa. Aku hanya bisa merasakan dadaku sesak dan sakit, debaran jantung yang cepat, dan perasaan pilu.
“Yejin-ah! Lihat nih! Ada boyband baru!” temanku, Sunmi membuyarkan lamumanku sambil menyodorkanku sebuah majalah.
“Ah. Boyband dari Korea ya? Seleramu selalu cowok Korea ya?”
”Ya aku tahu maksudmu, Yejin! Maksudmu cowok Jepang lebih cakep kan?!”
Aku tersenyum tipis. Sunmi lalu menyodorkan majalah itu agar aku mau memperhatikannya. Aku melihat boyband itu beranggotakan 13 orang, banyak sekali anggotanya. Tapi tiba-tiba perhatianku tertuju pada salah satu anggota boyband itu. Seseorang yang menarik perhatianku. Orang itu benar-benar mirip dengan cowok yang memutuskanku 4 tahun yang lalu. Namanya Lee Hyukjae.
Tiba-tiba air mataku mengalir, aku merasakan kesedihan yang luar biasa. Kini setelah waktu yang cukup lama, akhirnya aku bisa melihatnya kembali. Melihat seseorang yang sudah lama kurindu-rindukan. Sunmi yang melihatku menangis sangat kaget dan menawarkanku selembar tisu. Aku menerimanya sambil tersenyum garing.
-end of pov-
-Lee Hyukjae-
Aku bangun pagi dengan dengan pipi yang basah akibat air mata. Lagi-lagi aku bemimpi tentang kejadian di mana aku memutuskan hubunganku dengan Yejin. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Yejin juga bermimpi kejadian yang sama.
Sampai sekarang aku masih mencintainya, tapi dengan terpaksa aku memutuskannya karena berbagai masalah yang harus kami hadapi tapi kami tidak sanggup lagi. Sampai sekarang pun aku masih merindukannya. Terkadang saat aku teringat olehnya, aku menangis, hatiku sesak dan sakit. Apakah Yejin juga merasakannya? Apakah dia masih memiliki perasaan padaku? Aku tidak tahu. Aku berharap, aku mendapat kesempatan bertemu dengannya meskipun hanya sekejap.
+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+-+
Beberapa bulan kemudian…
-Son Yejin-
“Yejin-ah! Akhirnya aku mendapatkan tiket ini!” Sunmi memamerkan sebuah tiket padaku.
“Tiket apa?”
“Tiket fanmeeting-nya boyband yang beberapa bulan yang lalu yang kuperlihatkan padamu itu.”`
Aku tahu, itu adalah boyband di mana Hyukjae menjadi salah satu anggotanya. Mungkin dengan menghadiri fanmeeting-nya aku bisa bertemu dengannya sekali lagi. Mungkin ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan padaku.
“Sunmi-ah, apakah aku masih bisa membeli 1 tiket?”
“Kenapa? Kamu tertarik pada boyband ini ya?”
”Sepertinya begitu.”
“Kalau begitu, aku akan membelikannya untukmu. Aku punya seorang teman yang bekerja sebagai panitia penyelenggara fanmeeting. Mungkin dia bisa membantumu.”
“Gomawo, Sunmi-ah.”
Maka akhirnya teman Sunmi bersedia membantu. Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan tiket itu. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi.
-end of pov-
-Lee Hyukjae-
Entah kenapa pagi ini aku tidak berselera makan. Apa karena aku memikirkan Yejin, lalu aku sedih? Aku tidak tahu. Leeteuk hyung menyentuh keningku.
”Eunhyuk-ah. Apa kamu sakit?” tanyanya. Aku menggeleng.
”Lalu kamu kenapa? Kok kelihatannya nggak berselera makan?”
”Aniyo. Aku baik-baik saja. Kemarin malam aku nggak bisa tidur, mungkin karena itu.”
”Kalau begitu, cepat habiskan sarapanmu. Sebentar lagi kita ada schedule hingga malam.”
Aku menangguk dan menghabiskan sarapanku tanpa ada niat.
Setelah aku berpisah dengan Yejin, aku merasakan seperti ada langit mendung di atasku. Hampir setiap saat aku selalu murung. Di luar aku selalu tampak ceria karena aku tidak mau orang-orang di sekitarku khawatir melihatku. Di saat aku teringat Yejin, aku ingin menangis tapi aku harus menahannya.
Hampir setiap hari aku memandang ke arah jendela kamarku, berharap aku bisa melihat Yejin dengan senyum manisnya. Aku menanggap diriku bodoh, untuk apa aku menunggu sesuatu yang nggak bisa kuharapkan? Aku nggak bisa berahap apa-apa. Aku sendiri yang memutuskannya dan nggak bisa memperbaiki hubungan lagi. Aku berharap kami bersama lagi. Sayangnya itu tidak lebih dari sebuah imajinasi.
Dan setelah berpisah dengan Yejin, makin hari aku makin merindukannya. Dan kini, mungkin aku tidak bisa menahan lagi. Aku merindukan tawanya, senyuman khasnya, tubuh mungilnya yang sering kupeluk dan kata-katanya yang sering menguatkanku dan mencerahkan hariku. Hingga sekarang pun aku masih berharap untuk bertemu dengannya.
<Fanmeeting>
Hall di sebuah mall yang digunakan untuk fanmeeting Super Junior -untuk yang pertama kali- sangat luas. Hari ini aku sangat gugup dan nervous karena ini kali pertama aku dan member lainnya mengadakan fanmeeting. Tiba-tiba terbesit di pikiranku bahwa Yejin akan datang sebagi fans dan bertemu denganku saat sesi tanda tangan. Hyukjae! Untuk apa kamu berharap? Padahal kamu tahu bahwa kalian sudah terpisah begitu jauh! Kataku pada diriku sendiri. Aku merasa diriku sangat tolol dan bodoh. Aku tahu benar aku tidak bisa berharap apa-apa.
Menjelang sore, sudah banyak fans yang berbondong-bondong memasuki area hall. Aku mengintip sedikit ke luar panggung, dan separuh hall sudah terisi. Leeteuk hyung menarikku ke dalam, dia khawatir ada fans yang melihatku dan hall pasti jadi ramai duluan.
-end of pov-
-Son Yejin-
Acara fanmeeting pun dimulai. Dadaku berdegup cukup keras, bukan hanya aku penasaran dan tidak sabar melihat member boyband itu, tapi aku juga tidak sabar melihat wajah Hyukjae. Tapi beberapa detik kemudian, member Super Junior keluar dari panggung dan memperkenalkan diri mereka satu per satu.
Semua member tampak sangat tampan, tapi perhatianku tertuju pada Hyukjae. Menurutku dia benar-benar mirip dengan Jang Woohyuk, mantan member boyband H.O.T yang terkenal itu. Sore ini dia benar-benar tampan dan membuatku pangling.
Akhirnya di saat-saat yang kutunggu, sesi tanda tangan pun dimulai. Aku dan Sunmi dengan cepat berlari naik ke panggung, kadang menerobos para fans lainnya. Dadaku berdegup makin kencang. Rasa rinduku pada Hyukjae makin besar, dan aku hampir menangis. Dalam hitungan menit, aku sudah berdiri di depan Hyukjae. ”Anneyong.” sapaku. Hyukjae mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyumnya. Seketika itu juga aku ingin menangis. Dadaku tersasa sesak.
Aku memberikan buku tanda tanganku padanya. Dia menerimanya dan menggoreskan spidolnya di buku itu. Dan dia menulis, ”Saranghae, my fans.” Aku tertegun setelah membacanya. Dia berkata saranghae untukku yang dianggap sebagai fansnya, bukan mantan kekasihnya yang masih memendam perasaannya. Dia mengembalikan buku tanda tangan itu padaku.
Aku menyadari aku terlalu lama berdiri di situ, para fans yang sudah mengantre berdecak kesal, menginginkanku untuk cepat pergi. Aku langsung pergi dan keluar dari hall, meninggalkan Sunmi yang masih meminta tanda tangan. Begitu keluar dari hall aku lega karena aku bisa melepaskan air mataku.
Apa Hyukjae sudah melupakanku? Apa mungkin wajahku berubah sehingga dia tidak bisa mengenali diriku? Atau ada alasan lain? Aku nggak tahu, yang tahu hanyalah Hyukjae sendiri.
-end of pov-
-Lee Hyukjae-
Sesi tanda tangan akhirnya tiba. Dalam hitungan detik, sudah banyak fans yang berkerumun mengelilingi kami(super junior), dan dalam hitungan menit, aku bertemu dengan seseorang yang sudah kurindu-rindukan, Son Yejin. Aku yakin gadis yang meminta tanda tanganku itu adalah Yejin. Walau pun sudah terpisah selama 4 tahun lebih, aku masih mengenalnya dengan jelas.
Yejin tampak lebih cantik dari pada waktu 4 tahun yang lalu ketika kami masih bersama. Saat aku menggoreskan spidolku di buku tanda tangannya, aku hendak menulis ”Saranghae, Son Yejin.” Tapi aku tidak jadi menulisnya, aku menggantinya dengan ”Saranghae, my fans”. Aku berpikir kalau Yejin tahu yang duduk di hadapannya adalah mantan kekasihnya, mungkin dia akan menangis setelah membacanya. Mungkin dia akan berpikiran aku sudah melupakannya dan tidak mengenalinya. Yah, dia akan menangis kalau dia masih mencintaiku. Bisa saja dia sudah melupakanku atau perasaannya padaku sudah tidak ada, atau kini dia tidak lagi mengenaliku.
Tapi, sekali lagi aku tidak bisa berharap apa-apa. Karena kesibukanku menjadi artis pasti tidak sempat bertemu dengannya, dia juga pasti sudah melupakanku. Mungkin sekarang dia sudah menjalin hubungan dengan cowok lain. Dengan tersenyum sedikit dipaksakan, aku menyerahkan buku tanda tangan itu padanya. Tapi aku melihat matanya agak merah seperti menahan air mata. Tangannya gemetar saat menerima buku tanda tangan yang kukembalikan. Dengan cepat dia meninggalkan panggung dan keluar dari hall. Apa yang sedang dipikirkannya? Apa mungkin dia masih mengenaliku dan masih mencintaiku? Kalau memang begitu, aku merasa sangat bersalah.
Setelah fanmeeting selesai, kami(super junior) segera masuk ke ruang ganti kami dan melepas kostum kami, diganti dengan pakaian sehari-hari kami. Setelah itu, karena ada sempat waktu maka kami melepas make-up kami. Entah kenapa di ruang ganti itu aku merasa seperti orang mabuk, aku berjalan terhuyung-huyung, bahkan otakku seperti tidak mau bekerja. Aku melakukan segala sesuatu seperti orang bodoh dan selalu salah. Saat aku mau menghapus eyeliner-ku, seharusnya aku mengambil removal oil tapi aku malah mengambil acetone. Padahal removal oil dan acetone jelas-jelas berbeda. Saat aku hendak menggunakan acetone itu, Sungmin hyung menepuk pundakku.
”Eunhyuk-ah. Apa yang kau gunakan? Sepertinya itu bukan removal oil. Kamu mau melepas eyeliner-mu kan?”
Aku melihat botol acetone itu dan menyadari bahwa itu bukan removal oil. ”Ah iya. Aku salah.” Aku meletakkan acetone itu dan hendak mencari removal oil. Sungmin hyung mencegahku dan memegang lenganku. Dia menyuruhku untuk duduk.
”Ada apa denganmu? Aku lihat tadi kamu seperti orang mabuk dan segala sesuatu yang kau lakukan tampak bodoh.” tanyanya. Aku diam saja, tidak bisa berkata apa-apa. ”Kalau begitu, biar aku yang melepas eyeliner-mu.” katanya lagi.
Aku diam di kursiku menunggu Sungmin hyung. Aku berpikir, ada apa denganku? Apa karena saking sedihnya memikirkan Yejin aku jadi seperti ini? Sebelum aku sempat menemukan jawabannya, Sungmin hyung sudah datang dengan membawa removal oil. Dia pun menuangkan sedikit removal oil itu di atas kapas dan melepaskan eyelinerku.
~~~~~~~~~~~~~~~
Beberapa jam kemudian setelah fanmeeting…
-suju’s dorm-
Malam ini aku nggak bisa tidur. Aku nggak tahu mengapa, padahal aku sudah sangat capek dan mengantuk. Mataku memaksa untuk dipejamkan, tapi tetap saja aku nggak bisa tidur. Aku hanya berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit.
Pikiranku selalu dipenuhi tentang Yejin. Malam ini pun aku juga memikirkannya. Aku berpikir, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus mengejar Yejin, atau aku membiarkan rasa rindu ini begitu saja? Jika aku membiarkannya, pasti aku akan frustasi. Aku ingin sekali kami kembali seperti dulu. Tapi keadaan tidak memungkinkan.
Lalu, pikiranku tertuju pada Yejin di fanmeeting tadi. Tadi aku melihat Yejin dengan mata yang merah menahan air mata dan tangannya yang gemetar. Apa dia terluka saat melihatku? Aku tidak mau melukainya lagi. Aku merasa sangat bersalah padanya. Perlahan air mata mengalir di kedua pipiku. Aku tidak berusaha untuk menghentikannya, aku membiarkannya terus mengalir hingga waktunya untuk berhenti.
-end of pov-
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
-author pov-
”Eunhyuk-ah, makanlah. Aku sudah membuatkanmu kimbab favoritmu.” kata hankyung. Sejak Hankyung meletakkan piring penuh dengan kimbab di depan Hyukjae, Hyukjae hanya memandanginya dan tidak memakannya sama sekali. Sore itu semua member ada jadwal yang banyak, hanya Hyukjae dan hankyung yang tidak. Sebenarnya Hyukjae juga kebagian jadwal banyak itu, tapi ketika managernya melihat Hyukjae akhir-akhir ini tampak tidak sehat, maka jadwalnya dibatalkan untuk beberapa hari.
Hankyung mendekatinya dan menyentuh keningnya. ”Kamu tidak panas atau demam. Ada apa Eunhyuk-ah?” tanya Hankyung cemas. Hyukjae tersenyum tipis dan menggeleng.
”Aku nggak apa-apa. Kimbabnya kumakan ya.” Hankyung menangguk pelan lalu membereskan dapur setelah digunakan untuk memasak. Walaupun Hyukjae memakan kimbabnya sampai habis, dia tampak tidak berselera makan sama sekali.
Setelah menghabiskan kimbab, Hyukjae berjalan ke kamarnya. Hankyung langsung menghampirinya karena cemas. ”Mianhae hyung, aku ingin sendiri.” kata Hyukjae. Hyukjae langsung masuk ke kamarnya dan berbaring di kasurnya. Air matanya mengalir lagi. Yah, setelah fanmeeting itu, Hyukjae selalu tampak murung dan sedih. Kesehatannya juga mulai drop karena dia tidak mau makan sama sekali. Bahkan ketika Hankyung atau Ryeowook atau yang lainnya meletakkan makanannya di depannya, dia tidak menyentuhnya sama sekali. Semuanya pun mencemaskannya. Hal ini pasti karena kesedihannya setelah bertemu dengan Yejin. Manager mereka juga sangat mengkhawatirkannya. Kalau keadaan nggak membaik, sudah pasti kinerja Hyukjae nggak akan baik dan pastinya juga akan semakin menurun.
Tapi, mau bagaimana lagi? Semua orang yang mencemaskannya sudah memintanya untuk fokus pada karirnya, apalagi setelah awal debut jadwal mereka tidak bisa dibilang sedikit. Bahkan mereka harus pulang waktu dini hari. Sebenarnya Hyukjae sendiri juga selalu fokus pada karirnya walaupun dia selalu sedih dan murung. Hampir setiap hari dia melatih tariannya dan skill menanyinya. Hal itu juga dilakukannya untuk mencoba melupakan Yejin.
-Son Yejin-
Aku teringat lagi oleh Hyukjae. Senyum manisnya di fanmeeting waktu itu nggak bisa kulupakan. Dadaku sampai sekarang pun masih terasa sesak. Aku juga masih sering menangis karenanya. Dan lagi-lagi, aku teringat masa laluku dengannya.
**Flashback**
Suatu sore Hyukjae mengajakku ke suatu tempat, salah satu tempat favorit kami. Kami pergi ke Han river. Hyukjae menyanyikan salah satu lagu favoritnya untukku.
I think of you in everything that I do
to be with you what ever it takes I’ll do
cause you my love, you all my heart desires
you’ve lighten up my life forever I’m alive
since I found you my world seems so brand new
you’ve show me the love I never knew
your presence is what my whole life through
since I found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since I found you
your love shines bright
through all the corners of my heart
maybe you are my dearest heart
I give you all I have my heart, my soul, my life
my destiny is you
forever true… i’m so in love with you
since I found you my world seems so brand new
you’ve show me the love I never knew
your presence is what my whole life through
since I found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since I found you
my heart forever true…
In love with you..
(Christian Bautista – Since I Found You)
Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Hyukjae mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang dikenakannya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kalung. Hyukjae mengeluarkan kalung itu dan mengalungkannya di leherku. ”Ini kalung untukmu, chagiya.” katanya, lalu mencium bibirku dengan lembut. ”Aku mencintaimu.” katanya lagi setelah menciumku untuk beberapa detik.
Aku langsung berlinang air mata. Karena aku tahu, waktu dia memberikan kalung itu padaku, keluarganya sedang ada masalah besar dan dia cukup stress karenanya. Karena itu, dia membeli kalung itu dengan menghabiskan uang jajannya selama sebulan. ”Gomawo, Hyukjae. Saranghae.” kataku sambil menangis. Hyukjae menarikku ke dalam pelukannya dan membuatku merasa nyaman.
**end of flashback**
Sejak malam itu di Han river, lagu yang dinyanyikan Hyukjae menjadi lagu favoritku juga. Tapi sekarang tidak. Aku pun tidak pernah lagi mendengarkannya. Lagu itu hanya akan membuatku sedih. Apa yang harus kulakukan agar hati ini tidak sakit lagi? Kalung pemberiannya itu tidak lagi kukenakan, tapi sampai sekarang masih kusimpan baik-baik.
————————————————————-
Beberapa minggu kemudian…
Aku menemukan sebuah surat terselip di kotak surat saat aku memasuki apartemenku. Surat dari siapa? Aku tidak tahu. Aku memasuki kamar apartemenku.
”Yejin-ah, cepatlah mandi. Sekarang sudah sore.” kata omma saat aku menaruh sepatuku di rak sepatu. Aku tidak niat untuk mandi. Aku penasaran dengan surat yang baru kudapat. Aku langsung masuk ke kamar dan membuka amplop surat itu. Aku membuka surat itu dan membacanya.
Yejin-ah…
Mungkin kamu kaget siapa yang mengirim surat ini…
Ini aku, Hyukjae…
Mantan kekasihmu,
Yang sampai sekarang masih merindukanmu…
Setelah aku memutuskanmu 4 tahun yang lalu, aku nggak pernah lagi tersenyum…
Sejak saat itu, aku sadar aku membutuhkanmu…
Dan kamu juga membutuhkanku, aku tahu itu.
Tapi aku ini manusia bodoh…
Aku tidak mengambil tindakan apa-apa, aku tidak berusaha apa-apa untuk mengatasi keadaan ini…
Maafkan aku, Yejin…
Selama 4 tahun ini aku masih merindukanmu,
Aku masih mencintaimu…
Maafkan aku, mungkin selama ini aku melukaimu…
Aku benar-benar minta maaf.
Setelah 4 tahun berlalu, kini aku memutuskan untuk menghubungimu lewat surat ini,
Dan mengutarakan semua perasaanku di surat ini. Mungkin kini kamu nggak punya perasaan apa-apa padaku lagi, mungkin juga kamu sudah membenciku. Tapi, maukah kamu menemuiku? Aku tunggu kamu ya, di tempat favorit kita dulu, sore ini. Kamu masih ingat tempat itu kan?
Aku mencintaimu,
Lee Hyukjae
Aku langsung menangis setelah membaca surat dari Hyukjae. Ternyata dia mengirimku surat dan dia masih mencintaiku. Aku melirik ke jam dinding di kamarku. Hampir jam 5 sore. Mungkin Hyukjae sedang menungguku di tempat itu. Aku langsung cepat-cepat mandi. Aku tidak mau tampil buruk di depannya. Setelah mandi, aku mengambil kalung pemberian Hyukjae dan memakainya. Setelah itu aku langsung pergi menemuinya.
———————————————————————
20 menit kemudian,
Han River
Aku berlari-lari di sekitar Han river, mencari sosok hyukjae. Aku berkeliling di sekitar, lalu aku menoleh ke arah jembatan sungai, dan melihat sesosok lelaki, mirip Hyukjae. Setelah beberapa lama aku menyadari, laki-laki itu memang Hyukjae. Dadaku sesak, tapi hatiku melonjak gembira. Saat itu juga, aku merasakan sebuah harapan besar. Aku langsung meneriaki namanya. ”LEE HYUKJAEEE!!!!!”
Hyukjae mendengar teriakanku dan menoleh ke arahku, menatapku. Aku langsung berlari sekuat tenaga menghampirinya. Begitu aku dekat dengannya, aku langsung memeluknya dan aku menangis. ”Aku mencintaimu, Hyukjae. Aku merindukanmu.” kataku dengan suara bergetar.
Hyukjae memelukku dengan sangat erat. ”Aku mencintaimu, Yejin. Maafkan aku.” Dia juga menangis. ”Maafkan aku, aku tidak akan lagi melepaskanmu.”
”Aku…” aku hendak mengatakan sesuatu, tapi Hyukjae sudah mengunci bibirku. Dia melepaskan ciumannya setelah beberapa detik, lalu sebuah senyuman manis mengembang di bibirnya. Aku pun juga tersenyum lebar.
”Kalung itu, kamu masih mengenakannya?” dia menyadari kalung pemberiannya yang kukenakan. Aku mengangguk.
”Hyukjae-ah, kita akan bersama selamanya. Jangan lagi meninggalkanku. Yaksok?” kataku sambil mengulurkan jari kelilngkingku.
”Yaksok.” Hyukjae mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku.
”Aku akan menyanyikan lagu ini untukmu.” kata Hyukjae sambil kami duduk di dekat sungai dan dia memelukku dari belakang.
”Lagu apa?” tanyaku.
”Tebak saja.”
Lalu dia menyanyikan lagu itu.
I think of you in everything that I do
to be with you what ever it takes I’ll do
cause you my love, you all my heart desires
you’ve lighten up my life forever I’m alive
since I found you my world seems so brand new
you’ve show me the love I never knew
your presence is what my whole life through
since I found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since I found you
your love shines bright
through all the corners of my heart
maybe you are my dearest heart
I give you all I have my heart, my soul, my life
my destiny is you
forever true… i’m so in love with you
since I found you my world seems so brand new
you’ve show me the love I never knew
your presence is what my whole life through
since I found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since I found you
my heart forever true…
In love with you..
(Christian Bautista – Since I Found You)
Lagu itu lagi, lagu favoritnya. Aku tesenyum lalu mulai mengikurti irama lagunya, dan bernyanyi bersamanya. Hyukjae menggelamkan kepalanya di bahuku dan mencium pipiku. Perlahan dia berhenti menyanyi, membiarkanku meneruskan lagunya.
”Kamu hafal lagu ini?” tanyanya setelah aku menyelesaikan lagu.
”Ne.”
Diam sesaat…
”Chagiya…”
”Ne?”
”Bagaimana kalau kita menikah?”
”Arasso. Tapi aku masih sekolah.”
Hyukjae mengencup pipiku dengan lembut.
”Kalau tunangan? Bagaimana?”
”Boleh saja kalau aku selesai kuliah.”
”Banyak sekali syaratnya.” Kedengarannya dia tidak begitu suka.
”Kenapa? Apa kamu sebegitu inginnya aku menjadi istrimu?”
”Tentu saja. Aku cinta padamu.”
Hyukjae membaringkan tubuhnya di rumput, dan aku ikut berbaring. Menghadapnya, menatap wajah tampannya.
Diam lagi…
”Chagiya…” katanya.
”Ne?”
”Kamu umur berapa?”
”Masa kamu nggak tahu? Umurku 19 sekarang.”
”Aku 23 tahun.”
”Oh.”
”Kenapa Cuma ’oh’? Kamu nggak menyadari sesuatu?”
”Arasso. Aku tahu, aku harus panggil ’Oppa’. Bukan begitu?”
”Betul sekali. Panggil aku oppa.”
”Oppa…”
Hyukjae oppa mengerucutkan bibirnya, sepertinya dia kurang suka.
”Oppa, saranghae.”
Tapi Hyukjae oppa cemberut lagi.
”Oppa, saranghae~” Aku mengatakannya lebih serius lagi.
Kali ini dia malah memalingkan wajahnya dariku dan cemberut lagi. Akhirnya aku tahu maksudnya.
”Oppa saranghae~” kataku sambil mengecup bibirnya.
Oppa tersenyum dan menatapku. ”Itu yang aku suka.”
Oppa seperti anak kecil saja. Aku pun tertawa dan dia menarikku ke dalam pelukannya, dia memelukku dengan erat.
”I Love You…”
”I Love You too…”
THE END
——————————-
Mini dictionary:
Oppa: older brother/older man called by girl/woman
chagiya: Honey
Ne: yes/ok
Yaksok: promise