I Love U
Characters:
Lee Hyukjae
Lee Donghae
Lee Eunmin (the girl)
Aku berjalan memasuki ruang klub. Aku tergabung dalam klub menari di sekolah. Temanku, Donghae juga ikut tergabung. Kami berdua sama-sama sangat suka menari. Aku dan Donghae sudah tergabung dalam klub menari sejak kami SMP. Dan kami menjalani hari-hari kami seperti biasa, tidak ada yang istimewa dalam kehidupan sekolah kami. Sampai pada suatu hari, ada seorang gadis yang ikut tergabung dalam klub menari. Gadis itu adalah juniorku. Sejak saat itu, keadaan dalam hidupku berubah.
Aku terpesona dengan gadis itu. Aku terpesona dengan senyumnya yang manis, matanya yang bersinar, sifatnya yang ceria. Aku lebih terpesona lagi saat melihat tubuhnya yang luwes saat menari. Dan gadis itu adalah kamu. Sejak kehadiranmu, segala sesuatunya dalam hidupku berubah. Aku jadi lebih semangat saat datang ke klub, jantungku berdetak keras saat bersamamu, aku jadi gugup saat berbicara denganmu. Aku mengira kamu hanya akan masuk dan keluar dalam hidupku. Tapi ternyata tidak. Sejak saat itu aku menyadari perasaanku. Bahwa aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu.
Tapi ternyata tidak hanya aku yang berubah. Kamu juga berubah. Beberapa hari setelah kamu tergabung dengan klub, kamu jadi makin bersemangat, kamu jadi makin ceria. Tidak hanya itu, saat bersama temanku, Donghae, kamu jadi sering tersenyum, wajahmu sering memerah. Saat melihatmu bersamanya, hatiku terluka. Aku cemburu. Aku merasa hanya aku yang bisa memilikimu. Memang egois, tapi itulah yang kurasakan.
“Aku berpacaran dengannya.” Kata Donghae tiba-tiba saat kami pulang bersama dari klub. Saat itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Aku tahu siapa yang dimaksudkannya.
“Dengan siapa? Eunmin?” tanyaku. Donghae menangguk. Saat itu juga hatiku seperti diremuk-remuk, dan akhirnya hancur berkeping-keping. Aku merasa seperti kehilangan harapan untuk mendapatkanmu. Dan pada akhirnya, aku tahu teryata hatimu tidak terbuka untukku. Ada pria lain yang sudah masuk ke dalam kehidupanmu.
“Selamat.” Kataku pada Donghae dengan senyum dipaksakan. Dia mengangguk mantap. Aku berusaha keras untuk menahan air mataku agar tidak tumpah.
Aku bersandar di kursiku, lalu menghembuskan nafas. Aku sudah capek hari ini. Aku harus menghadapi hari ini dengan tidak enak. Aku patah hati. Aku membiarkan air mataku mengalir dari kedua mataku. Aku membuka laci mejaku, dan mengambil sebuah kalung. Kalung itu seharusnya kuberikan padamu sebagai hadiah ulang tahunmu. Tapi kamu sudah terlanjur berada dalam pelukan orang lain. Aku hanya bisa mengamatimu dari jauh.
“Saranghae, Lee Eunmin…” bisikku, memanggil namamu dengan suara bergetar.
Beberapa bulan kemudian…
Semester hampir berakhir. Kita berdua akan segera naik kelas. Dan tradisi sekolah kita jika semester akan berakhir, maka akan diadakan acara prom. Di acara ini, laki-laki dan perempuan akan berpasang-pasangan dan berdansa bersama. Dan di akhir acara akan dipilih pasangan mana yang terbaik. Aku ingin sekali mengajakmu ke prom itu. Tapi aku tahu, kamu akan pergi dengannya. Dengan Donghae.
Salah seorang gadis yang juga tergabung dalam klub menari mengajakku menjadi pasangannya di prom nanti. Aku dan dia belum memiliki pasangan. Dengan berat hati aku menerimanya. Itu berarti aku harus tegar melihatmu berdansa bersamanya.
Prom akhirnya datang juga. Aku pergi ke sekolah dengan balutan kemeja putih dan jas hitam. Aku menunggu gadis yang menjadi pasanganku, dan akhirnya dia datang. Bersama-sama kami masuk ke dalam hall sekolah yang luas, di mana prom akan diadakan. Dan disaat itu juga aku melihatmu. Herannya, kamu tidak bersama Donghae. Aku terpesona melihatmu. Kamu terlihat cantik hanya dengan balutan gaun putih polos. Kamu menyadari kehadiranku, lalu melambai singkat padaku. Aku pun membalas lambaianmu. Aku heran mengapa kamu tidak datang bersama Donghae.
Saat berdansa aku sama sekali tidak memperdulikan pasanganku. Perhatianku hanya tertuju padamu. Tapi aneh sekali, mengapa kamu tidak bersama Donghae. Kamu pun tampak mengedarkan padangan ke sekeliling hall untuk mencarinya. Mengetahui kamu mencarinya, bukannya mencariku membuat hatiku makin sakit.
Tapi sesuatu telah berubah saat acara dansa berakhir. Aku meninggalkan pasanganku dan berlari menghampirimu yang cemas mencari Donghae. Tepat pada saat aku menghampirimu, kita berdua melihat sepasang laki-laki dan perempuan, bergandengan tangan. Laki-laki itu terlihat familiar. Dan pada saat mereka mendekat, mataku terbelalak kaget. Tapi kamu lebih kaget. Pria itu Donghae. Dia berjalan dengan perempuan lain.
Perlahan air mata keluar dari kedua matamu. Bibirmu bergetar. Wajahmu memerah. Aku tahu kamu sangat sedih dan kecewa. Di saat yang sama pun aku kecewa dengan Donghae, mengapa dia mencampakkanmu? Hatiku sakit dan sesak. Seketika itu juga kamu berlari meninggalkan hall, berlari sekuat-kuatnya. Aku langsung menghampiri Donghae. Aku mencengkeram kerah kemejanya lalu menampar pipinya.
Dia sangat kaget melihat tindakanku. “Mengapa kamu tega mencampakkannya?!” tanyaku dengan garang. Dia menundukkan kepalanya.
“Mianhae.” Hanya itu yang diucapkannya. Aku melepas cengkeramanku dan berlari menyusulmu.
Aku mencarimu dengan mobilku ke mana-mana tapi aku belum juga menemukanmu. Tiba-tiba saja hujan datang. Aku berdecak kesal. Dengan adanya hujan, aku jadi makin susah mencarimu. Tapi mungkin ada sebuah keberuntungan yang diberikan Tuhan untukku. Di tengah-tengah hujan yang makin deras, aku menemukanmu berdiri di halte bus. Hanya kamu yang ada di sana. Berkali-kali kamu mengusap wajahmu karena air mata yang terus mengalir. Melihatmu begitu hatiku seperti dirobek-robek. Aku tidak tega melihatmu sedih seperti itu.
Aku langsung mendekatkan mobilku ke halte, megambil payung dan berlari menghampirimu. Kamu sangat kaget saat melihatmu. Aku langsung menarikmu ke dalam pelukanku.
“Oppa…” ucapmu.
“Aku ada di sini. Tenanglah.” Ucapku. Aku merasakan tubuhmu bergetar hebat dalam pelukanku.
“Oppa, dia…” ucapmu dengan suara bergetar. Aku mempererat pelukanku.
“Aku tahu. Tidak apa-apa. Dia hanyalah pria brengsek yang mencampakkanmu. Ada aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Kataku untuk menenangkanmu.
Aku melepas jasku dan memakaikannya ketubuhmu dan menggigil kedinginan.
“Sudah cukup hangat?” tanyaku. Kamu mengangguk lemah dengan memaksakan seulas senyum. Aku memintamu masuk ke dalam mobil dan aku membawamu ke rumahku.
Aku memberimu segelas coklat hangat, berharap kamu jadi lebih tenang.
“Terima kasih Oppa.” Ucapmu.
“Apa kamu mau pulang?”
“Bisakah… aku menginap?” tanyamu pelan-pelan, membuatku kaget. Malam ini hanya aku dan kamu di rumahku. Kedua orang tuaku bekerja di Amerika. Jadi selama aku di Korea, aku tinggal sendiri.
“Di mana orang tuamu?” tanyaku.
“Mereka sedang dinas ke luar negeri.” Jawabmu lemah.
“Baiklah. Malam ini kamu menginap saja. Biar kupinjamkan bajuku dulu.” Kataku.
“Terima kasih Oppa.”
“Tidak apa-apa.”
Tapi malam ini kamu tidak mau tidur. Maka kita memutuskan untuk menonton film tengah malam. Dan aku kaget saat kamu menyandarkan kepalamu di bahuku.
“Tidak boleh?” tanyamu dengan pipi memerah. Kamu terlihat malu. Aku terkikik.
“Tidak apa-apa kok.” Ucapku. Tak lama kemudian kamu tertidur. Aku pun menggendongmu ke kamarku. Aku membaringkanmu di atas ranjang. Aku menyibakkan rambutmu dan mengecup dahimu.
“Saranghae…” bisikku sambil tersenyum. Aku masuk ke kamarku sendiri, lalu tidur. Dan dalam pertama kalinya setelah kamu hadir dalam hidupku, aku tidur dengan seulas senyum di wajahku.
Keesokan harinya, dengan mata memerah bekas menangis semalam, kamu masuk ke ruang makan. “Pagi.” Ucapmu. Aku membalasnya dengan ucapan pagi juga.
“Hari ini kita membolos saja.” Kataku, membuatmu kaget.
“Aku ingin membawamu ke suatu tempat. Lagipula kamu juga tidak ada seragam sekolah bukan?”
“Ah, iya benar.” Kamu menangguk. Aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Karena itu aku ingin membawamu ke suatu tempat agar kamu kembali tersenyum.
Han River
Aku membawamu ke sini, dan mengajakmu naik banana boat. Akhirnya kamu kembali tersenyum. Aku sangat lega. Sifatmu yang ceria itu kembali terlihat.
“Terima kasih Oppa.” Katamu dengan senyum lebar.
“Sama-sama.”
Saat kita berjalan di atas jembatan sungai, tiba-tiba kamu menggandengku.
“Boleh kan?” tanyamu malu-malu.
“Tentu saja.” Jawabku sambil tertawa. Aku pun mempererat genggamanmu.
——————————————————————–
Setelah hari itu di Han River, kamu akhirnya bisa melupakan Donghae. Walaupun kamu sering melihatnya bermesraan dengan gadis lain, kamu terlihat biasa saja. Bahkan Donghae sama sekali tidak menemuimu untuk mengucapkan permintaan maaf. Kita pun jadi sering bersama-sama. Aku ingin keadaan ini terus sama hingga seterusnya, selamanya.
“Hyukjae Oppa!” kamu memanggil namaku setelah klub usai.
“Pulang yuk!” ajakmu. Aku mengangguk dan tanpa ragu aku menggandeng tanganmu. Kamu pun tidak menolak.
“Bagaimana kalau kita makan es krim dulu? Ada sebuah kafe es krim baru di dekat sekolah. Aku ingin mencobanya.” Ajakku. Kamu menangguk mantap.
Aku pun membawamu ke kafe itu. Es krim di sana ternyata sangat enak. Dengan semangat kamu melahapnya. Diam-diam aku tersenyum melihatmu.
Aku masuk ke kamar setelah pulang sekolah. Aku membuka laci mejaku dan mengambil kalung itu. Aku meremasnya dalam genggamanku. Lalu aku tersenyum.
“Inilah saatnya untuk mendapatkanmu.” Bisikku.
Hari Sabtu…
Aku mengajakmu untuk jalan-jalan ke luar. Kamu mengiyakan ajakanku. Aku membawamu ke Yeouido Park. Kita menghabiskan waktu di sana. Aku menyewa sebuah sepeda dan menaikinya bersamamu.
Kita berhenti di bawah sebuah pohon yang besar. “Ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu.” Kataku, lalu merogoh saku celanaku. Aku mengeluarkan kalung itu. Detik itu juga jantungku berdetak keras.
Aku memakaikan kalung itu di lehermu, lalu kamu mengamatinya. Dan detik berikutnya, senyum lebar mengembang di wajahmu.
“Wow! Kalung ini indah sekali! Terima kasih, Oppa.” Ucapmu dengan sangat senang. Aku ternsenyum juga, tapi tidak selebar senyumanmu. Karena aku sangat gugup. Aku berencana untuk menyatakan perasaanmu.
“Eunmin.”
“Ya?”
“Maukah kamu… jadi pacarku?” tanyaku hati-hati. “Aku mencintaimu, Eunmin.”
Kamu terlihat kaget.
“Maaf, kalau kamu tidak menyukaiku juga tidak apa-apa.” Lanjutku. Tapi lalu kamu tersenyum lebar dan kedua pipimu merah.
“Bodoh.” Ucapmu. “Untuk apa aku menolak Oppa?”
Aku melihatmu dengan penuh tanda tanya.
“Karena aku juga mencintaimu, Oppa.” Ucapmu sambil tersenyum. Lalu air mata keluar dari kedua matamu. Untuk apa kamu menangis?
“Untuk apa kamu menangis?” tanyaku. Kamu menghapus air matamu.
“Tidak, aku hanya sangat senang.” Jawabmu. Aku langsung menarikmu ke dalam pelukanku, pelukan yang sangat erat.
Lalu aku mengangkat tubuhmu dan berputar-putar. Aku menurunkanmu, tapi tidak melepaskanmu. Kamu melingkarkan kedua tanganmu di leherku dan aku memeluk pinggangmu dengan kedua tanganku. Bibir kita bertemu.
“I Love You, Eunmin.”
“I Love You too, Oppa.”
Aku tidak akan melepaskanmu lagi, sekali setelah kamu berada dalam pelukanmu. Karena aku sangat mencintaimu.